http://jaringansuaraindonesia.com/
Jumat, 11 September 2015
PEMBUSUKAN KARAKTER BALON KEPALA DAERAH MELALUI MEDIA MASSA
Hammer dan Hogan dalam bukunya how to manage conflic, mengatakan
pengertian konflik sebagai segala bentuk pertikaian yang terjadi dalam
organisasi, baik antara individu dan individu, antara individu dengan
kelompok maupun antara kelompok dengan kelompok yang bersifat
antagonistis. Konflik selalu melibatkan dua orang atau lebih (perorangan
atau kelompok) yang terjadi apabila salah satu fihak merasa
kepentingannya dihalang-halangi atau akan dihalang-halangi. Hal yang
mendorong munculnya konflik tentu saja karena ada kepentingan yang ingin
di capai namun dirasa ada sesuatu (hambatan, rintangan atau lawan) yang
berpotensi menghalangi tujuan. Biasanya konflik timbul karena orang
lain atau sesuatu dipandang berpotensi ditakuti dapat mengganggu
berbagai proses dalam upaya memperoleh cita-cita, menjadi kepala daerah
misalnya. Namun biasanya konflik muncul begitu saja tidak direncanakan
sebelumnya. Tetapi paradigma baru, dewasa ini, orang pintar menggunakan
konflik sebagai senjata ampuh membentuk opini dan menghancurkan karakter
seseorang ataupun kelompok.
Karakter yang dimaksud adalah jiwa, sosok, maupun kredibilitas yang melekat pada diri seseorang atau kelompok dan tentunya seseorang atau kelompok itu memiliki kekuatan atau power. Ketakutan inilah yang mendorong penciptaan konflik ditengah-tengah masyarakat melalui berbagai cara dan media massa adalah tempat yang tepat mengumandang-kannya. Orang pintar mengatakan, komunikasi adalah proses penyampaian informasi atau pesan-pesan (message) dari satu fihak kepada fihak lain melalui media tertentu.
Sebagai media massa apakah koran, majalah, radio maupun televisi merujuk etika jurnalistik sebenarnya sah-sah saja jika media massa dipergunakan untuk mengekspose kejelekan, keburukan atau kelemahan seseorang apalagi pada proses pemilihan kepala daerah. Di banyak kasus, menjelang pemilihan umum khususnya pemilihan kepala daerah, orang awampun sudah dapat menilai sebuah surat kabar atau media elektronika berdiri membela siapa. Melalui pemberitaan sepanjang detik, menit, jam, harian, mingguan maupun bulanan terlihat jelas pembelaan mela-lui foto dan berbagai sepak terjang seseorang mempromosikan bahwa dirinya adalah sosok yang tepat dipilih menjadi pemimpin.
Ada-ada saja berita yang dikemas sebagai alasan untuk tampil, dari berita peresmian serikat tolong menolong (STM) sampai kepintarannya sewaktu di Taman Kanak Kanak pun dirasa perlu dimuat. Upaya tersebut sebenarnya adalah jalan baik untuk lebih memperkenalkan diri (karena sebelumnya tidak dikenal) kepada orang lain dan sebagai upaya memudarkan pikiran simpati orang kepada lawan politiknya. Tetapi ada juga penguasaan media massa yang khusus menjelek-jelekan, bahkan menghancurkan masa depan orang lain. Lihat saja seorang anggota senat (menteri) di Amerika yang mengundurkan diri karena ditekan lawan politiknya melalui pemberitaan affair dirinya dengan seorang wanita, kasus yang sama juga terjadi pada oknum kepala daerah dan anggota DPR/DPRD di Indonesia.
Pada sisi penguasaan media massa ini, kedewasaan masyarakat benar-benar teruji untuk melihat siapa sebenarnya yang baik dan buruk, yang pintar dan bodoh dan yang pantas atau tidak pantas. Kaum politisi maju era kini tidak lagi terlalu repot mempergunakan media massa untuk memperoleh dukungan masyarakat, ada cara yang dipandang lebih strategis seperti melalui pendekatan dari hati ke hati dan pendekatan kebutuhan. Lagi pula insan pers jaman sekarang sudah terlalu pintar untuk dapat dipermainkan dan diperalat sesuai nilai kontrak. Jujur sajalah, aji umpung sebenarnya telah banyak menipu calon kepala daerah yang miskin atau yang kaya.
Sebagai contoh pembelajaran, di sebuah media massa sosok seseorang acap kali tampil seolah-olah dirinya matahari yang harus terbit menyinari bumi setiap hari, namun ia lupa, tidak semua orang yang menginginkan sinar matahari tersebut terik bersinar sepanjang hari. Tidak percaya, tanyakan saja kepada anak sekolah yang berjalan kaki sepanjang hari, petani yang baru menanam tanamannya, termasuk wanita-wanita cantik yang berkulit halus. Maksudnya, ada saatnya matahari dibutuhkan sinarnya terik namun dibutuhkan juga matahari yang redup seperti mendung serta kadang matahari harus mengalah dan memberikan kesempatan kepada hujan untuk tampil kedepan. Persoalannya terletak pada kepintaran mengatur waktu agar penampilannya tidak menjengkelkan orang lain bahkan membuat marah, tetapi membuat orang merasa tersanjung, simpati dan yakin akan diri kita.
Bila seorang bakal calon kepala daerah (balon) melakukan pendekatan dari hati ke hati serta pendekatan kebutuhan (lebih ekstrim), dukungan tidak akan lari kemana-mana. Walaupun media massa menyanjung kita sampai ke ujung langit, apakah isteri, anak atau saudara lawan politik akan berpaling kepada kita? Jawabnya, mustahil … tetapi apakah peluang itu ada? jawabnya ada. Kuncinya, bagaimana kita mampu meru-muskan pola penghancuran karakter yang sebenarnya terhadap lawan politik tidak sekedar pembusukan karakter di media massa yang tidak semua orang membacanya. Kalaupun nantinya busuk masih bisa di obati, kalau sudah hancur, bagaimana . Sesungguhnya sudah banyak dipraktekkan dalam dunia perpolitikan modern dewasa ini, namun tidak semua orang mendalaminya dengan seksama.
Jika di kaji-kaji, ide ini sudah kuno walaupun demikian, masih saja banyak orang yang terperosok maupun dijerumuskan sengaja ke persoalan-persolan harta, tahta atau kekuasaan, dan lawan jenis (pria atau wanita). Kita harus ingat tidak semuanya yang kuning itu emas, namun ada juga warna kuning itu kotoran manusia demikian juga tidak semua kawan itu kawan dan tidak semua lawan itu lawan. Pembusukan karakter bagi balon kepala daerah adalah pekerjaan lamban dan cenderung sia-sia, mengapa takut mencoba pembunuhan karakter? Tulisan ini adalah sedikit pemikiran yang ingin membuka penjajahan prilaku yang dilakukan berbagai politikus yang sering kali mengorbankan orang baik yang bertujuan baik membangun masyarakat. Jika sudah begini, persiapkanlah diri menghadapi penghancuran karakter, siapa takut silahkan menjadi penonton di pinggir lapangan.
(Penulis Sekretaris IKADI-PP Dairi/Pakpak Bhara.)
Karakter yang dimaksud adalah jiwa, sosok, maupun kredibilitas yang melekat pada diri seseorang atau kelompok dan tentunya seseorang atau kelompok itu memiliki kekuatan atau power. Ketakutan inilah yang mendorong penciptaan konflik ditengah-tengah masyarakat melalui berbagai cara dan media massa adalah tempat yang tepat mengumandang-kannya. Orang pintar mengatakan, komunikasi adalah proses penyampaian informasi atau pesan-pesan (message) dari satu fihak kepada fihak lain melalui media tertentu.
Sebagai media massa apakah koran, majalah, radio maupun televisi merujuk etika jurnalistik sebenarnya sah-sah saja jika media massa dipergunakan untuk mengekspose kejelekan, keburukan atau kelemahan seseorang apalagi pada proses pemilihan kepala daerah. Di banyak kasus, menjelang pemilihan umum khususnya pemilihan kepala daerah, orang awampun sudah dapat menilai sebuah surat kabar atau media elektronika berdiri membela siapa. Melalui pemberitaan sepanjang detik, menit, jam, harian, mingguan maupun bulanan terlihat jelas pembelaan mela-lui foto dan berbagai sepak terjang seseorang mempromosikan bahwa dirinya adalah sosok yang tepat dipilih menjadi pemimpin.
Ada-ada saja berita yang dikemas sebagai alasan untuk tampil, dari berita peresmian serikat tolong menolong (STM) sampai kepintarannya sewaktu di Taman Kanak Kanak pun dirasa perlu dimuat. Upaya tersebut sebenarnya adalah jalan baik untuk lebih memperkenalkan diri (karena sebelumnya tidak dikenal) kepada orang lain dan sebagai upaya memudarkan pikiran simpati orang kepada lawan politiknya. Tetapi ada juga penguasaan media massa yang khusus menjelek-jelekan, bahkan menghancurkan masa depan orang lain. Lihat saja seorang anggota senat (menteri) di Amerika yang mengundurkan diri karena ditekan lawan politiknya melalui pemberitaan affair dirinya dengan seorang wanita, kasus yang sama juga terjadi pada oknum kepala daerah dan anggota DPR/DPRD di Indonesia.
Pada sisi penguasaan media massa ini, kedewasaan masyarakat benar-benar teruji untuk melihat siapa sebenarnya yang baik dan buruk, yang pintar dan bodoh dan yang pantas atau tidak pantas. Kaum politisi maju era kini tidak lagi terlalu repot mempergunakan media massa untuk memperoleh dukungan masyarakat, ada cara yang dipandang lebih strategis seperti melalui pendekatan dari hati ke hati dan pendekatan kebutuhan. Lagi pula insan pers jaman sekarang sudah terlalu pintar untuk dapat dipermainkan dan diperalat sesuai nilai kontrak. Jujur sajalah, aji umpung sebenarnya telah banyak menipu calon kepala daerah yang miskin atau yang kaya.
Sebagai contoh pembelajaran, di sebuah media massa sosok seseorang acap kali tampil seolah-olah dirinya matahari yang harus terbit menyinari bumi setiap hari, namun ia lupa, tidak semua orang yang menginginkan sinar matahari tersebut terik bersinar sepanjang hari. Tidak percaya, tanyakan saja kepada anak sekolah yang berjalan kaki sepanjang hari, petani yang baru menanam tanamannya, termasuk wanita-wanita cantik yang berkulit halus. Maksudnya, ada saatnya matahari dibutuhkan sinarnya terik namun dibutuhkan juga matahari yang redup seperti mendung serta kadang matahari harus mengalah dan memberikan kesempatan kepada hujan untuk tampil kedepan. Persoalannya terletak pada kepintaran mengatur waktu agar penampilannya tidak menjengkelkan orang lain bahkan membuat marah, tetapi membuat orang merasa tersanjung, simpati dan yakin akan diri kita.
Bila seorang bakal calon kepala daerah (balon) melakukan pendekatan dari hati ke hati serta pendekatan kebutuhan (lebih ekstrim), dukungan tidak akan lari kemana-mana. Walaupun media massa menyanjung kita sampai ke ujung langit, apakah isteri, anak atau saudara lawan politik akan berpaling kepada kita? Jawabnya, mustahil … tetapi apakah peluang itu ada? jawabnya ada. Kuncinya, bagaimana kita mampu meru-muskan pola penghancuran karakter yang sebenarnya terhadap lawan politik tidak sekedar pembusukan karakter di media massa yang tidak semua orang membacanya. Kalaupun nantinya busuk masih bisa di obati, kalau sudah hancur, bagaimana . Sesungguhnya sudah banyak dipraktekkan dalam dunia perpolitikan modern dewasa ini, namun tidak semua orang mendalaminya dengan seksama.
Jika di kaji-kaji, ide ini sudah kuno walaupun demikian, masih saja banyak orang yang terperosok maupun dijerumuskan sengaja ke persoalan-persolan harta, tahta atau kekuasaan, dan lawan jenis (pria atau wanita). Kita harus ingat tidak semuanya yang kuning itu emas, namun ada juga warna kuning itu kotoran manusia demikian juga tidak semua kawan itu kawan dan tidak semua lawan itu lawan. Pembusukan karakter bagi balon kepala daerah adalah pekerjaan lamban dan cenderung sia-sia, mengapa takut mencoba pembunuhan karakter? Tulisan ini adalah sedikit pemikiran yang ingin membuka penjajahan prilaku yang dilakukan berbagai politikus yang sering kali mengorbankan orang baik yang bertujuan baik membangun masyarakat. Jika sudah begini, persiapkanlah diri menghadapi penghancuran karakter, siapa takut silahkan menjadi penonton di pinggir lapangan.
(Penulis Sekretaris IKADI-PP Dairi/Pakpak Bhara.)
Kamis, 03 September 2015
KELURAHAN RIMBA ASAM: Program Kerja SK Karang Taruna
KELURAHAN RIMBA ASAM: Program Kerja SK Karang Taruna: program KT rimbas jaya PROGRAM KERJA KARANG TARUNA KELURAHAN RIMBA ASAM MASA BAKTI 2010-2013 A. Pendahuluan Puji Syukur kehadirat Al...
KELURAHAN RIMBA ASAM: Program Kerja SK Karang Taruna
KELURAHAN RIMBA ASAM: Program Kerja SK Karang Taruna: program KT rimbas jaya PROGRAM KERJA KARANG TARUNA KELURAHAN RIMBA ASAM MASA BAKTI 2010-2013 A. Pendahuluan Puji Syukur kehadirat Al...
Minggu, 09 Agustus 2015
LAGU KARAOKE: DOWNLOAD LAGU KARAOKE
LAGU KARAOKE: DOWNLOAD LAGU KARAOKE: TEMPAT DOWNLOAD LAGU KARAOKE Lagu Karaoke L agu Karaoke merupakan lagu yang menghilangkan suara vokal dan memberikan teks/lirik vocal...
Kamis, 06 Agustus 2015
Strategy Pemenangan Balon Walikota dan Wakil Walikota
Fase Pertama
Dalam Strategy Pemenangan Balon Walikota dan Wakil Walikota Adalah :
I.
D.I.K.E.N.A.L. Strategy Pilihan:
1.
Jadi Selebriti;
2.
Ikut Serta Dalam Kegiatan,Yang Banyak Disorot Media.
Fase Kedua Dalam
Strategy Pemenangan Balon Walikota dan Wakil Walikota Adalah :
II.
P.O.P.U.L.A.R.I.T.A.S. Strategy Pilihannya:
1.
Menjadi Selebritis yang selalu digosip kan sebagai
orang bijak.
2.
Membuat Event dimana masyarakat, dapat mengenal Anda, secara
luas, sebagai orang bijak
III.
E.L.E.K.T.A.B.I.L.I.T.A.S. pada fase ini tidak ada
strategy pilihan! ada 10 poin yang harus dilakukan :
1.
Bentuk Team Penjaring Aspirasi dan Jurkam. Lakukan
Gerilya Sampai Tingkat RW. Mengacu Pada Hasil Survey Pemetaan Calon Voters!!
2.
Bentuk Team Khusus Untuk Tanggungjwb Attribut Campign.
Dari Ide, Design, Publishing, Distribusi, Sampai Pencopotan Setelah Campign.
3.
Bentuk Team Audit, Untuk Mengawasi Team Inti Dan Team
Penjaring, Serta Team Atrribut. Pekerjakan Secara Independen!!
4.
Dengan Data Yang Didapat Team Penjaring. Buat Solusi Terhadap
Isu Yang Berkembang Pada Dapil. Buat Solusinya Dan Jadikan Jargon!!!
5.
Gunakan Fasilitas Dari Partai Pendukung. Tapi Jangan
Masukkan Anggota Partai Dalam Team Sukses, Kecuali Sudah Jelas Track Recordnya. dan
Hanya Sebagai Jurkam!!!
6.
Manfaatkan Kesalahan yang Dibuat Oleh Incumbent/
Pemerintahan Sebelumnya, dan Munculkan Ide2 Segar, Sebagai Janji Campign!!!
7.
Libatkan Media,Terutama Media Sosial, Dalam Ekpos Janji
Kampanye!!!
8.
Cari Moment2 Yang Bisa Dipakai Untuk,Membantu Rakyat
Pada Dapil. Terutama, Yang Memiliki Dampak Masive!!
9.
Apabila Ada Debat Publik Dengan Kandidat Lain, Siapkan
Team Khusus, Dengan Melibatkan LSM Yg Tau Permasalahan Dapil.
10. Khusus
Utk Incumbent!!! Jalankan Program Program Pro Rakyat,Khususnya yang Bersifat
Masive, Selama Masa Kampanye.
Bagaimana mendesain pemilih menjadi pemilih sesungguhnya?
Momentum Pemilukada yang akan dilaksanakan dalam
beberapa bulan mendatang harus menjadi kesempatan yang baik bagi rakyat untuk
memperoleh pendidikan politik, agar pesta demokrasi lokal ini dapat berkorelasi
positif dalam penguatan kebersamaan dan tetap terjaganya harmoni sosial.
Kita tentu berharap agar para elit politik lokal,
para kandidat beserta segenap tim pemenangannya untuk membangun langkah dan
perilaku yang konstruktif dan edukatif, agar Pemilukada itu menjadi pesta rakyat yang menyenangkan dan mencerahkan bukan
menegangkan.
Para pihak yang terlibat dalam pelaksanaan
Pemilukada harus memiliki good will dan political will untuk melakukan
pendidikan politik, agar proses dan pelaksanaan kompetisi politik berjalan
secara berkualitas dan berbudaya.
Para kandidat yang akan berlaga di medan
persaingan harus mampu mengangkat isu dan tema konstruktif serta
program-program yang realistik untuk mendorong perubahan dan kemajuan yang
berarti.
Pertanyaannya adalah bagaimana mendesain pemilih
menjadi pemilih sesungguhnya, bukan suporter (pemilih yang semu), sehingga
dapat mendongkrak kualitas Pemilukada sekaligus mampu memberikan makna
pendidikan politik bagi warga?.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
midikita Free: VIRA MUSIK ENTERTAIMEN MIDI FULL LIRIK : VIRA MUSIK ENTERTAIMENT PALOPO MEYEDIAKAN MIDI LIRIK
-
Tiongkok atau china sudah sangat terkenal dengan literatur kesehatannya. Banyak buku-buku yang menjadi pedoman hidup A...
