Rabu, 13 Mei 2015

Membangun Karakter (Character Building) untuk Keseimbangan Hidup sebagai Pemimpin




 “Kebaikan adalah bentuk khusus dari kebenaran dan keindahan.
Ia adalah kebenaran dan keindahan dalam bentuk perilaku manusia”
(H.A. Overstreet)

"Tanggung jawab pemimpin, bukan hanya  membuat organisasinya tumbuh, berkembang dan berkinerja cemerlang, tetapi juga mempersiapkan pemimpin masa depan, agar perpindahan tongkat estafet kepemimpinan dapat berlangsung mulus"
(Betti Alisjahbana)
 





Untuk memulai tulisan sederhana ini, ijinkanlah saya mengawalinya dengan sebuah kisah inspiratif. Cerita ini saya peroleh dari tulisan Hamdan Juhannis (Guru besar Sosiologi UIN Allauddin Aktivis Indonesian Public Integrity Education Network) dengan judul Professor dan Toplesnya. Begini ceritanya :

---

Saat mengajar sebuah topik pada mata Kuliah Filsafat, seorang professor tiba-tiba mengambil toples kosong. Tanpa penjelasan awal, professor itu mengisi toples itu dengan bola-bola golf.  Ia bertanya pada mahasiswanya,  “apakah kalian melihatnya sudah penuh?”, yang dijawab mahasiswa secara serempak: “betul!” dengan penuh keheranan. Setelah itu, professor itu menuangkan batu koral ke dalam  toples sambil mengguncang-guncang toples itu. Lalu batu koral itu mengisi tempat yang kosong di antara bola-bola golf. 

Kemudian dia mengkonfirmasi lagi kepada mahasiswanya: “Apakah sudah penuh?” yang kembali diangguki oleh mahasiswanya. Selanjutnya dia menabur pasir ke dalam toples yang tentu saja dengan mudah pasir menutupi semuanya. Professor itu sekali lagi menanyakan apakah toples sudah penuh. Mahasiswanya kembali menjawab betul. Kemudian secara mengejutkan professor itu menuangkan secangkir kopi ke dalam toples, dan dengan efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir. Lakon professor kali ini disambut tawa kegelian oleh para mahasiswa.

Lalu professsor itu mengatakan: “Kalian boleh menertawai tingkah saya, tetapi pahamilah bahwa toples ini mewakili kehidupan kalian.” Professor itu menjelaskan: “Bola-bola golf adalah hal yang amat penting dalam hidup: Tuhan, keluarga, anak-anak, kesehatan dan pendidikan.” Dia menambahkan: “Jika yang lain hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidup kalian masih tetap penuh, karena bola-bola golf saja sudah memenuhi toples.” Menurutnya: “Batu-batu koral adalah hal-hal lain yang penting seperti pekerjaan, rumah dan kendaraan. Seperti kalian lihat dalam toples betapa batu koral menjadi hal kedua mengisi sisi-sisi kosong untuk memenuhi toples dan penampakannya sangat jelas.”

Professor itu lebih jauh mengulas: “Pasir adalah hal-hal yang sepele dalam hidup kalian. Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples, maka pasti tidak akan tersisa ruangan untuk bola-bola golf ataupun batu-batu koral. Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu. Jika kalian menghabiskan energi untuk hal-hal yang sepele, kalian tidak akan mempunyai ruang untuk hal-hal yang penting buat kalian. Jadi berilah perhatian untuk hal-hal yang mendasar bagi kebahagiaanmu. Beribadalah dengan baik. Urus keluargamu dengan serius, termasuk bermainlah dengan anak-anakmu, bekerja dengan keras untuk kesejahteraanmu, dan jangan lupa untuk check-up kesehatan.”Professor itu lalu mengunci: “Singkatnya, berikan perhatian terlebih dahulu pada bola-bola golf, lalu batu koral, dan terakhir baru urus pasirnya.”

Salah satu mahasiswa mengangkat tangan dan bertanya: “lalu kopi mewakili apa prof? Professor itu tersenyum dan menjawab: “Saya senang kamu bertanya. Bukankah dari awal saya mengatakan bahwa toples ini mewakili kehidupanmu. Kopi itu untuk menunjukkan kepada kalian bahwa sekalipun hidupmu tampak sudah sangat penuh, tetapi jangan lupa untuk tetap menyediakan waktu minum kopi dengan sahabat-sahabat kalian,” yang disambut tawa lepas seluruh isi kelas.
---

Hikmah Toples

Ilustrasi di atas menawarkan sebuah hikmah yang sangat bermanfaat bila dikaitkan dengan kawan-kawan sebagai “pemimpin” masa depan. Seorang “pemimpin” laksana sebuah toples milik sang professor, sementara bola golf, kerikil, pasir dan secangkir kopi sebagai ilustrasi urutan kebutuhan atau skala prioritas yang harus dipenuhi dan dipersiapkan oleh seorang pemimpin dalam menjalankan roda organisasi.

Prioritas pertama, adalah pendidikan (formal dan non formal) dan kesehatan (fisik dan non fisik). Pendidikan di sini mengisyaratkan sebuah makna yang lebih luas, baik dalam tataran pendidikan formal yang kita tempuh melalui S3K (SD, SMP, SMA dan Kuliah), sampai kepada pendidikan non formal yang dimulai dari cara orang tua dan keluarga memperlakukan kita di tengah-tengah kehidupan keluarga, cara kita berinteraksi dan mengambil pelajaran dari kawan-kawan masa kecil, teman-teman semasa remaja, dan karib kerabat setelah dewasa dan tak terkecuali orang-orang tua yang patut kita contohi dan perlu kita teladani.

Begitupun dalam menjalankan sebuah roda organisasi. Seorang yang diberi kepercayaan untuk memimpin haruslah mengutamakan kebutuhan primer ini yang dapat ditempuh melalui proses kaderisasi yang benar-benar terarah, dengan cara menanamkan nilai-nilai kepemimpinan yang sudah menjadi tradisi serta nilai-nilai baru yang mampu memberikan kesegaran dalam menjalankan roda organisasi.

Prioritas kedua, berupa penyediaan sandang, pangan dan papan bagi organisasi. Setelah itu mengurus hal-hal yang bersifat sepele.

Jika dikaitkan dengan ilustrasi toples sang profesor di atas, kenyataannya justru hal-hal sepele yang memenuhi ruang toples organisasi, sehingga kebutuhan bola-bola golf dan batu koral kehidupan yang menjadi esensi hidup ini cenderung tidak punya tempat.

Sebagai contoh, masih segar dalam ingatan kita ketika berbagai media menyuapi “mulut kesadaran” kita dengan perdebatan tiada ujung tentang nasib pengurus sepakbola nasional kita. Tentu tidak bermaksud untuk menyepelekan sepakbola kita, tetapi yang dimaksudkan di sini adalah perdebatan panjang tiada henti dalam hal kepengurusan organisasi sepakbola nasional yang bernama PSSI. Polemik ini terus berkepanjangan seolah tak pernah berujung dan menghabiskan begitu banyak energi, bukan hanya bagi media, tapi juga energi rakyat dan bangsa, sehingga memenuhi toples kehidupan ini melalui pemberitaan yang dibesar-besarkan dan telah menggiring opini publik.

Issu bola ini lebih jauh semakin menutupi issu mendasar yang seharusnya ditempatkan sebagai prioritas kehidupan ini, yang sejatinya terlebih dahulu memenuhi toples kehidupan ini. Issu tentang kebohongan publik dari kalangan pemerintah yang banyak menggerogoti sendi-sendi kehidupan ini seakan sudah mulai terlupakan dari hal-hal yang sepele di atas. Tentu kejujuran publik seharusnya yang pertama mengisi ruang kosong dalam toples negeri ini. Karena tanpa sepak bola sekalipun yang menjadi olahraga terfavorit di atmosfir ini, hidup dengan integritas akan membuat toples kehidupan tetap terasa penuh.

Kekhawatiran professor di atas bahwa toples selalu terisi dengan persoalan-persoalan yang sepele, betul akan segera bermunculan memenuhi toples menutupi hal-hal yang lebih penting yang seharusnya mengisi toples kehidupan tersebut. Yang sedikit menggembirakan dari kekhawatiran professor di atas adalah analogi siraman kopinya pada toples itu. 

Kenyataannya, begitu menjamurnya warung-warung kopi di berbagai sudut kota negeri ini, yang membuktikan bahwa hidup warga ini tetap selalu menyediakan waktu untuk minum kopi bersama sahabat. Asal saja, janganlah warung kopi justru menjadi tempat yang sangat empuk untuk menghabiskan waktu mengulas hal-hal yang sangat sepele dalam hidup. Bukankah menghabiskan waktu setiap saat di warung kopi adalah juga hal yang sepele?

Membangun Karakter Pemimpin

Mari beralih menuju persoalan membangun karakter (character building). Berbicara membangun karakter, saya teringat dengan apa yang pernah diucapkan Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh pada suatu kesempatan. Saat itu, ia mengatakan bahwa membangun karakter bukan hanya tugas dunia pendidikan, melainkan kewajiban dari bangsa secara keseluruhan. Hanya saja, karakter pribadi seseorang sebagian besar memang dibentuk oleh pendidikannya. Karena itu, untuk membentuk pribadi yang terpuji, tanpa cela dan bertanggung jawab, mutlak dibutuhkan pendidikan yang berkualitas, yakni pendidikan karakter.

Tak kurang, para peneliti, dan tokoh kelas dunia pun dengan jelas ikut menyuarakan pentingnya masalah pembentukan karakter ini. Theodore Roosevelt, mantan presiden USA, mengatakan : 

“To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” 

(Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya bagi masyarakat)

Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu dari tujuh dosa fatal manusia adalah “education without character” (pendidikan tanpa karakter). Sementara menurut Thomas Lickona (1992), tanda-tanda kehancuran suatu bangsa antara lain:

1. Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja;
2. Ketidakjujuran yang membudaya;
3. Semakin rendahnya rasa tidak hormat kepada kedua orang tua, guru dan figure pemimpin;
4. Meningkatnya kecurigaan dan kebencian;
5. Penggunaan bahasa yang memburuk;
6. Penurunan etos kerja;
7. Menurunnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara;
8. Meningginya perilaku merusak diri; dan
9. Semakin kaburnya pedoman moral.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membangun karakter adalah perhatikan ilustrasi dari salah satu kata bijak terkenal berikut :

“Bila Anda kesulitan menemukan bentuk gajah dalam sebuah bongkah besar marmer, temukanlah bentuk-bentuk yang bukan gajah dan kemudian sebuah bentuk gajah akan mulai terlihat dengan lebih jelas”.

Artinya, bila kita menemukan banyak kesulitan dalam membangun kualitas-kualitas bintang pada diri kita, tundalah sebentar upaya itu. Sebagai gantinya, temukanlah keburukan-keburukan yang telah menjadi tuan rumah dalam perilaku kita, dan segera hilangkanlah. Bila kita berhasil meminimalkan kekurangan-kekurangan, hakikatnya kita telah berhasil memaksimalkan kebaikan-kebaikan kita.

Karakter dalam Islam

Dalam Islam, karakter dapat dimaknai sebagai akhlak. Beberapa hadits dan hikmah berikut menunjukkan betapa pentingnya penerapan akhlak dalam kehidupan manusia.

“innama bu’itstu liutammima makaarimal akhlaaq”

Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia (HR Malik).

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”

 “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah)

Dan sekarang resapilah hadits berikut:

“Ilmu diperoleh dengan belajar, dan sifat santun diperoleh dengan latihan menjadi santun” (HR. Bukhari).

Jika ternyata baiknya akhlak menjadikan sempurnanya iman, maka tidak ada alasan bagi kita untuk menomorduakan keseriusan dalam upaya pembentukan akhlak/karakter dibanding keseriusan mengejar keunggulan teknologi. Yakinlah, bahwa jika kita memiliki akhlak/karakter yang baik, maka akan lebih mudah bagi kita untuk mengejar berbagai prestasi.

Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika dalam dirinya terkristal sifat dan sikap adil terhadap segala hal dan kepada siapa pun, berani menyuarakan kejujuran dan kebenaran, mampu menjaga nilai kehormatan diri, dan sabar dalam segala hal dan situasi. Adil kepada apapun dan siapapun dengan cara meletakkan segala sesuatu sesuai dengan kondisi dan tempatnya (Allah SWT lebih suka kepada orang-orang yang adil : Al’quran). Berani menyuarakan kebenaran dan keadilan karena untuk menjadi orang jujur mutlak butuh keberanian (sampaikanlah kebenaran walau satu ayat : Al-Hadits). 

Menjaga kehormatan diri ditempuh dengan cara melakukan hal-hal yang baik dengan cara yang benar (Aku (Muhammad) tidak diutus oleh Allah SWT melainkan untuk menyempurnakan akhlak : Hadits). Sabar dalam segala hal, yang meliputi 4 (empat) perkara, yakni sabar dalam kesenangan hidup, sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar untuk tidak berbuat maksiat, dan sabar dalam kesulitan/kesusahan hidup/musibah.

Sebagai seorang muslim sejati, kawan-kawan dituntut untuk memiliki 15 (lima belas) karakter muslim yang hebat : 

1. Ulet dan tangguh (high adversity question)

Diukur dari tingkat kegigihan dalam melakukan sesuatu, kekuatan mental dan emosi, dan kecerdasan daya juang (adversity question).

2. Berwawasan ke depan (sense of future)

Menyadari apa yang sedang berlangsung di sekitar kita dengan cara membaca apa yang tersirat, melihat dengan sudut pandang orang lain, tahu kapan harus bertindak atau tidak bertindak, terbuka terhadap informasi, ide-ide serta saran-saran dari orang lain.

3. Cakap (capable)

Punya kemampuan dan keahlian spesifik yang dimiliki, yang diukut dari : tidak hanya “mampu mengerjakan”, lebih kepada touble shooting (menyelesaikan masalah), kecakapan pribadi menjadi kecapakan dalam kerja, mau melakukan perenungan diri (mawas diri).

4. Penuh perhatian (attentive)

Peduli dengan apa yang dirasakan orang lain dengan turut membantu meringankannya sesuai dengan kemampuan diri.  

5. Memiliki integritas diri (personal integrity)

Jujur dalam tindakan dan ucapan, berkepribadian baik, tidak mudah terprovokasi dan mudah teragitasi.

6. Mau introspeksi diri (introspector)

Kemampuan untuk memprakarsai perubahan melalui evaluasi dan koreksi diri secara berkesinambungan.

7. Percaya diri (self confidence)

Percaya pada kemampuan dan keandalan diri.

8. Toleran (tolerant)

Terbuka terhadap pandangan dan praktek yang berbeda dengan pandangan dan praktek yang kita lakukan sendiri.

9. Berempati (emphatetic)

Dengan mengatakan pada orang lain “saya memahami bagaimana Anda merasakan..” dan “saya bias menempatkan diri pada posisi Anda, tanpa saya mengambil tanggung jawab untuk itu ..”.

10. Bersikap dan bersifat positif (optimistic and positive thinking)

Memelihara optimisme diri tentang orang lain atau situasi tertentu.

11. Memiliki rasa hormat terhadap sesama (respectful)

Memperlakukan tiap-tiap orang secara adil menurut kadar kebutuhan dan kepercayaan mereka.

12. Bertanggung jawab (responsible)

Tidak lari dari tanggung jawab (don’t cop out) dan loyal pada yang dipimpin (be loyal downwards).

13. Setia kepada pemimpin (upward loyalty)

Tidak melangkahi pemimpin (don’t pass the buck) dan memelihara hubungan baik (maintain relationship).

14. Berani hadapi masalah (problem facer)

Jangan lari dari masalah karena lari dari masalah akan menambah atau melahirkan masalah baru yang bahkan bisa lebih sulit Anda hadapi. Hadapilah masalah dengan jantan.

15. Mau mendengarkan (good listener)

Mendengarkan gagasan-gagasan, pandangan-pandangan, ide-ide orang lain, baik yang Anda kenal maupun yang tidak Anda kenal.

Penutup

Sebagai penutup, berikut saya kutip sebuah puisi karya Romora Edward Sitorus, yang menggambarkan secara tersirat maupun tersurat tentang karakter seorang pemimpin.

PUISI UNTUK PEMIMPIN

            Dunia Para Pemimpin
            Sekarang atau 100 tahun
            Duniamu adalah dunia kekaguman
            Tempat para manusia setengah elang
            Yang terbang di bawah awan
            Yang memantau seribu satu mahluk padang

                        Kenapa engkau harus selalu melayang
                        Tak lelahkah engkau pemimpin
                        Buanglah segala bebanmu pemimpin
                        Kami pun bisa segera turun tangan

            Tapi kau adalah simbol segala perjuangan
            Engkau di atas bukan hanya sebagai tanda perang
            Tapi engkau adalah uap pemacu yang memberi ketenangan
            Engkaulah lokomotif raksasa pencakar semesta

                        Cobalah mengenalku pemimpin
                        Seringkali matamu melihat begitu jauh
                        Karena bebanmu yang berat dan erat
                        Tapi bukan itu inginku, aku ingin kau dekat

            Engkau pemimpinku
            Hasrat juang semua tertumpu padamu
            Mulai lepaskan satu per satu
            Biarkan kami turut menanggung
            Jadilah jalur pacu kami

                        Seabad bertemu
                        Aku ingin kau tahu
                        Bahwa kau memang luar biasa
                        Pembawa arah, peninjau medan

            Pemimpin kami
            Kami bangga
            Ada engkau di tengah-tengah
            Layakkan kami jadi busur dan anak panah

                         Agar kami tahu bagaimana hidupmu
                        Biarkan kami membawa warna kami
                        Dalam mata angin surga yang kau tunjukkan
                        Dalam hari-hari ke depan, di dunia para pemimpin

(Dari berbagai sumber)

Zainudin, M.Si.
Badan Diklat Kementerian Dalam Negeri

Disampaikan pada acara pelantikan ketua dan pengurus Forum Komunikasi Mahasiswa Bima Bekasi (FKMBB) di Bekasi pada tanggal 13 Maret 2011.

Jumat, 08 Mei 2015

Manfaat Donor Darah



  


 
Ingatkah Anda dengan slogan PMI: "Setetes darah Anda, nyawa bagi sesama"? Hohoho..ternyata slogan itu bener adanya loh temans.. Banyak korban kecelakaan yang meninggal dunia karena kehabisan darah. Kematian ibu-ibu yang melahirkan ternyata tidak hanya karena kondisi si ibu yang kurang prima, tapi tak sedikit yang meninggal karena pendarahan. hiiiy...ngeri ya!
Nah, untuk mengantisipasi hal-hal demikian, di setiap rumah sakit pasti punya persediaan kantong darah buat ditransfusikan kepada sesama kita yang membutuhkan. Kantong-kantong darah itu diperoleh dari hasil donor darah di PMI atau Rumah Sakit. Satu kantong darah kira-kira berisi 450ml darah, yang berasal dari satu orang pendonor.
   

Jelas sekali disini donor darah memang sangat bermanfaat bagi penerima donor (resipien). Dan ternyata, donor darah juga bermanfaat buat pendonornya loooh..
Apa manfaatnya, Meg? dikasih segelas susu hangat, sebutir telur, sama sekaleng susu?
Ngok! nggak itu aja kaleeee... Banyak manfaat donor darah buat pendonor, tau! Ternyata, ketika mereka yang rutin mendonorkan darahnya diwawancarai gerangan apa yang dirasakannya, jawabannya kurang lebih akan sama looh. Mereka merasa lebih bugar, tampak sehat, dan segar.
Iyalah bugar... donor darah kan bikin kita gendut..
Eits...siapa bilang??? Donor darah akan membuat pendonor jadi gemuk itu ternyata cuma mitos! Niih...baca manfaat donor darah yg bener...
1. Mendapat pemeriksaan kesehatan gratis

Iya dooong... Secara rutin sebelum diambil darah tentu diperiksa terlebih dulu kondisi dan tekanan darah kita. Selain itu, darah yang diambil akan diperiksa lagi, supaya terjamin kualitasnya dan karakteristiknya sesuai dengan kebutuhan resipien. Seandainya dalam darah kita dijumpai adanya penyakit *amit-amit deh*, pihak PMI akan segera menghubungi kita. Jadi kesehatan kita senantiasa terpantau :)

2. Mengurangi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah

Mengapa? Oleh karena dengan rutin memberikan darah, kadar zat besi yang menumpuk dalam darah secara berlebihan, dapat dikurangi. Kita tahu zat besi tidak boleh terlampau menumpuk dalam aliran darah. Jika zat besi dibiarkan bertambah banyak beredar, bisa buruk akibatnya bagi jantung dan sistem sirkulasi darah.
Bagi mereka yang berisiko, atau sudah mengidap penyakit jantung, tentu akan mendapatkan keuntungan tambahan dari mendonor darahnya secara rutin berkala. Bahkan pada beberapa kasus jantung dan stroke, sengaja dibuang sebagian kecil darah bila dinilai kelewat kental. Metode penyaringan darah, sebagai cara mencegah sumbatan baru atau sumbatan ulang pada koroner, dilakukan dengan cara membuat darah lebih diencerkan.

3. Merangsang sumsum tulang untuk memproduksi sel darah merah lebih banyak

Dengan mendonorkan darah, tubuh mengalami kehilangan sejumlah darah. Kondisi demikian akan merangsang sumsum tulang tubuh sebagai pabrik pembuat sel darah merah untuk memproduksi sel darah merah lebih banyak. Perasaan segar dan bugar sehabis mendonor adalah suatu tanda tubuh memproduksi sel darah merah baru yang lebih muda dan segar.


4. Donor darah membantu mempercepat upaya menurunkan berat badan

Penjelasannya, bahwa setiap kali mendonorkan darah sekitar 450 cc, tubuh akan kehilangan kalori sebesar 650 Kkal, atau sepertiga jumlah kalori harian.

5. Menumbuhkan perasaan sejahtera dalam dirinya

Iyalah...saiapa sih yang nggak ikut senang lantaran sudah memberikan pertolongan kepada orang lain? Keindahan rasa dalam memberi itu yang menambah rasa sejahtera. Apalagi kalau darah yang kita berikan itu sudah menolong nyawa orang lain, dan terlebih bila yang ditolong lebih dari satu orang.

6. Menurunkan risiko terkena kanker

Studi di Miller-Keystone Blood Center, Skandinavia, menunjukkan hal itu. Risiko kanker jauh lebih rendah pada kelompok orang yang sama bagi yang rutin mendonorkan darahnya dibandingkan yang tidak melakukannya.

7. Membantu kerja ginjal

Dengan Mengeluarkan darah secara teratur, Anda membantu ginjal Anda karena sebagian dari sisa penghancurn darah akan dikeluarkan tubuh melalui ginjal.

8. Mengeluarkan zat-zat tubuh yang berlebihan

Bila Anda mendonorkan darh secara teratur, secara teratur juga Anda telah mengeluarkan zat-zat berlebih yang mungkin merusk tubuh. Zat-zat itu bisa berupa asam urat, kolesterol, dsb. Memang ada kemungkinan zat-zat itu akan datang kembali, tapi jika dikeluarkan secara teratur, Anda membuat tubuh mempunyai waktu untuk memperbaiki diri.
  


 
9. Satya Lencana Bhakti Sosial

Orang-orang yang sudah mendonorkan darahnya sebanyak 100x biasanya mendapat penghargaan SATYA LENCANA BHAKTI SOSIAL dari Presiden RI dalam keadaan sugar-bugar.

10. Didoakan orang lain

Dengan mendonorkan darah, Anda mendapat doa dari si penerima dan keluarganya. Dan setip kali Anda mendonorkan darah, Anda dapat menolong sampai 3 orang. Jadi dalam setahun, besar kemungkinannya ada 40 orang yang mendoakan kebaikan Anda. hehehentuk anda.

11. Tampak lebih segar 

Mereka yang rajin mendonorkan darahnya rata-rata kelihatan tampil lebih segar.Sudah barang tentu bakal seperti itu. Bagaimana tidak, oleh karena sel-sel darah merah tubuh selalu diproduksi baru. Sel-selnya lebih muda, lebih segar, dan mampu mengikat oksigen lebih banyak. Fungsi sel darah merah begini yang memunculkan tampilan segar pada mereka yang rutin mendonorkan darahnya.


 https://www.facebook.com/pmi.kotasibolga.1


Selasa, 21 April 2015

RAKORNAS VERIFIKASI DAN VALIDASI DATA KEMISKINAN TAHUN 2015


Pengalaman menunjukkan bahwa selama periode 2011-1015, banyak permasalahan dan persoalan yang ditemukan di lapangan terkati dengan proses pemberian bantuan, seperti terjadinya exclussion error maupun inclusion error, dan masalah-msalah lainnya, seperti: bantuan yang dibagi rata, bantuan yang dikurangi dan lain-lain.  Terkait dengan persoalan ini, maka pada Rapat Koordinasi Nasional Verifikasi dan Validasi Data Kemiskinan tahun 2015 perlu dicarikan suatu solusi bagaimana mengatasi persoalan yang ada, sehingga persoalan yang sama tidak terulang lagi. 

Hal tersebut diatas merupakan salah satu point penting yang disampaikan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan:  Puan Maharani saat membuka secara resmi kegiatan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Verifikasi dan Validasi Data Kemiskinan Tahun 2015. Kegiatan ini dihadiri oleh Menteri Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi: Marwan Ja''far serta Menteri Sosial : Khofifa Indar Parawansa, sebagai tuan rumah dalam kegiatan ini.

Tema Rapat Koordinasi Nasional ini yaitu “MELALUI KOORDINASI NASIONAL VERIFIKASI DAN VALIDASI DATA KEMISKINAN KITA TINGKATKAN SINERGITAS PUSAT DAN DAERAH MENUJU AKSELERASI PENGENTASAN KEMISKINAN”. Adapun peserta Rapat Koordinasi ini adalah Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (Provinsi, Kabupaten dan Kota) terdiri dari unsur pemerintah (Gubernur, Walikota-Wakil Walikota/Bupati-Wakil Bupati), masyarakat, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya dalam penanggulangan kemiskinan di tingkat daerah, BAPPEDA dan  Dinas Sosial (Provinsi, Kabupaten dan Kota).



DOWNLOAD MATERI RAKORNAS :
  1. Kewenangan Kementerian Sosial dalam Verifikasi dan Validasi Data Kemiskinan - Khofifa Indar Parawansa - Menteri Sosial RI
  2. Verifikasi dan Pendataan Kemiskinan Dalam Penanggulangan Kemiskinan - Dr. H. Saleh Partaonan Daulay, M.Ag, M.Hum, MA – Ketua Komisi VIII DPR-RI
  3.   Nawacita - Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial - Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial RI
  4. Pemutakhiran Basis Data Terpadu (BDT) Tahun 2015 - BPS
  5. Mekanisme Verifikasi dan Validasi Data Penduduk Miskin – KEMENDAGRI
  6. Pengembangan, Pengelolaan, dan Pemanfaatan Basis Data Terpadu (BDT) – TNP2K
  7. Program dan Kebijakan Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kaitannya dengan Verifikasi dan Validasi Data – Dirjen Linjamsos Kementerian Sosial RI
  8. Peningkatan Kapasitas Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial Dalam Verifikasi dan Validasi Data Kemiskinan – Dirjen Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kementerian Sosial RI.
  9. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2013 tentang Penanganan Fakir Miskin
  10. Sistem Verifikasi dan Validasi Berbasis Komunitas - Kabadiklitkesos Kementerian Sosial RI
  11. Kebijakan Pengawasan Verifikasi dan Validasi Data - Inspektorat Jenderal Kementerian Sosial RI 
  12. Pendataan Non Register - Dirjen Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI
  13. Program dan Kebijakan Badiklitkesos - Kabadiklitkesos Kementerian Sosial RI
  14. Ekspos Data TNP2K - TNP2K
  15. Hasil Kesepakatan Rakornas Verifikasi & Validasi Data Kemiskinan 2015